Selasa, 15 April 2008

Persahaban Sufi

“Sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata pada sahabatnya, Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita.” (Q.s. At-Taubah: 40).


Abul Qasim al-Junaid r.a. berkata, “Ketika Allah swt. menetapkan kepada Abu Bakr ash-Shiddiq sebagai sahabat, Allah menjelaskan, bahwa Nabi Saw. menampakkan sifat kepedulian yang besar kepadanya. Dalam firman-Nya, “Di waktu dia berkata pada sahabatnya, ‘Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita’. “ Orang yang merdeka, adalah senantiasa peduli atas orang yang menjadi sahabatnya.

Riwayat dari Anas bin Malik ra, Rasulullah Saw. bersabda, “Kapankah aku bertemu kekasih-kekasihku?” Para sahabat menjawab, ‘Demi ayah, engkau dan ibu kami, apakah kami-kami ini bukan kekasihmu.?’ Rasul Saw. bersabda, “Engkau adalah sahabat-sahabatku. Sedangkan kekasih-kekasihku adalah kaum yang belum pernah jumpa denganku, (tetapi) beriman kepadaku. Aku lebih banyak rindu kepada mereka. “ (H.r. Abu Syeikh, dalam Bab ats-Tsawaab).

Persahabatan itu ada tiga macam:

  1. Bersahabat dengan orang yang lebih atas dari Anda. Persahabatan ini pada hakikatnya lebih sebagai rasa bakti.
  2. Bersahabat dengan orang yang ada di bawah Anda. Persahabatan ini menuntut agar Anda bersikap peduli dan kasih sayang. Sementara yang mengikuti Anda harus selalu serasi dan bersikap hormat.
  3. Bersahabat dengan mereka yang memiliki kemampuan dan pandangan ruhani. Yaitu suatu persahabatan yang menuntut sikap, memprioritaskan sepenuhnya kepada sahabatnya itu.
Siapa yang bersahabat pada syeikh yang memiliki derajat lebih daripada dirinya, etikanya ia harus meninggalkan sikap kontra, bersikap ramah dan respektif kepadanya, dan mempertemukan diri dengan ihwal ruhaninya melalui iman.

Saya mendengar Manshur bin Khalaf al-Maghriby berkata, ketika ditanya oleh sebagian. murid-murid kami, “Berapa tahun Anda bersahabat kepada Sa’id bin Salam al-Maghriby?” Beliau
melihat dengan tajam kepada penanya, sembari berkata, “Aku tak pernah bersahabat dengannya, tetapi aku berbakti padanya beberapa waktu.” Apabila orang yang menyahabati Anda adalah orang yang berada di bawah Anda, maka, suatu pengkhianatan dalam hak persahabatannya adalah ketika Anda tidak memperingatkannya atas kekurangan perilakunya.

Dalam hal ini para Sufi bersyair:
Mata pandang ridha akan suram dari segala cela
Namun mata pandang dendam tampak buruk segalanya.


Sahl bin Abdullah berkata pada seseorang, “Bila Anda termasuk orang yang takut binatang buas, jangan berteman denganku. “ Bisyr al-Harits berkata, “Berteman dengan kejahatan akan melahirkan sangkaan buruk dengan bebas.” Al-Junaid berkata, “Ketika Abu Hafs masuk ke Baghdad, ia disertai seorang yang botak bagian kepala depannya, sama sekali bungkam tak bicara. Kemudian aku bertanya pada para sahabat Abu Hafs mengenal keadaan orang tersebut. Mereka menjawab, ‘Lelaki itu telah menafkahkan seratus ribu dirham kepada Abu Hafs. Sementara. ia berhutang seratus ribu dirham untuk diinfakkan kepada Abu Hafs. Abu Hafs tidak memperkenankannya bicara sekecap pun’.”

Dzun Nuun al-Mishry berkata, “Janganlah bersahabat dengan Allah swt. kecuali senantiasa dalam keselarasan; jangan pula dengan makhluk kecuali dengan saling menasihati jangan pula dengan nafsu kecuali dengan menentang riya’. Jangan bersahabat pula dengan syetan, kecuali dengan memusuhi.”

Seseorang bertanya kepada Dzun Nuun, “Siapa yang bisa kujadikan sahabat?” Beliau menjawab, “Seseorang, yang bila engkau sakit ia menjengukmu, bila engkau berbuat dosa ia menganjurkan tobat padamu.”

Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Pohon bila tumbuh dengan sendirinya, namun tidak diolah oleh manusia, ia akan tumbuh dengan daunnya, tetapi tidak bisa berbuah. Begitu juga seorang murid bila berkembang tanpa guru ia akan muncul, namun tidak berbuah.”

Dikatakan Muhammad an-Nadhr al-Haritsy, ‘Allah swt. mewahyukan kepada Nabi Musa as, jadilah kamu orang yang bangun dan kembali, serta menjadi sahabat bagi dirimu. Setiap sahabat yang tidak menggembirakan hatimu, maka jauhilah ia, dan janganlah bersahabat dengannya, karena ia akan mengeraskan hatimu. Bagimu ia menjadi musuh. Banyak-banyaklah mengingat-Ku karena akan mendatangkan rasa syukur kepada-Ku, dan mendapat tambahan dari anugerah-Ku’.”


Abu Yazid al-Bisthamy berkata, “Bersahabatlah kalian dengan Allah swt. Bila kalian tidak mampu, maka bersahabatlah dengan orang yang bersahabat dengan Allah swt, karena bersahabat dengannya bisa menghubungkan kalian kepada Allah swt, melalui berkat persahabatannya dengan Allah swt.”



Posted In Artikel sufinews.com


0 komentar: